GURU WAJIB BERHATI-HATI, DESKRIPSI LAPORAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK BISA MENJADI BUMERANG*

Tahun 2023 lalu, penulis sempat berbincang-bincang dengan salah satu orang tua peserta didik kelas 5 dari salah satu sekolah di Kabupaten Fakfak (kota). Orang tua tersebut mempermasalahkan beberapa hal terkait deskripsi yang ditulis dalam buku laporan hasil belajar peserta didik yang diterimanya beberapa hari sebelumnya. Dan keberatan dengan beberapa kebiasaan guru yang dilihatnya saat proses belajar mengajar berlangsung. Point-point yang dipermasalahkan (yang penulis anggap penting untuk diperhatikan oleh seorang guru) itu adalah sebagai berikut:

  1. Deskripsi yang terdapat dalam dokumen laporan hasil belajar peserta didik sepertinya hanya dicopy-paste tanpa dicermati terlebih dahulu (penulis: dalam pengertian yang negative).  Karena itu ditujukan kepada anaknya yang perempuan, sedangkan dalam buku laporan itu tertulis deskripsi tentang praktek ibadah shalat Jum’at yang hanya diwajibkan untuk laki-laki, bukan perempuan. Orang tua itu pun memberikan contoh deskripsi (dalam bahasa penulis) seperti ini: Ananda Zia sangat baik dalam mempraktikkan ibadah shalat Jum’at.
  2. Sepertinya guru-guru ini malas mengajar. Karena saat proses belajar-mengajar, setelah beberapa menit mengajar, guru mulai sibuk dengan handphone. Jika ada peserta didik yang tidak mengerti dan bertanya, mereka tidak langsung menjawab, malah anak-anak disuruh mencari jawabannya di google. Bahkan tugas dari sekolah yang dikerjakan di rumahpun dicari di google. Lalu apa gunanya guru?

Itulah dua permasalahan yang perlu diperhatikan oleh seorang Guru. Namun sebelum masuk ke penjelasan penulis kepada orang tua peserta didik tersebut terkait point-point pertanyaan dan pernyataan di atas, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui oleh seorang guru berkaitan dengan konsekuensi memberikan penilaian terhadap peserta didik seperti deskripsi yang tercantum dalam dokumen laporan hasil belajar peserta didik.

Sebagai Guru, kita sepatutnya bersyukur jika ada orang tua peserta didik atau siapapun yang berani mengajukan pertanyaan, mengkritik, memberikan saran, mengajukan pendapatnya, yang semua itu demi mendapatkan output pendidikan yang berkualitas. Kita tidak perlu menunjukkan reaksi yang berlebihan, apalagi berpikir dan merasa bahwa apa yang disampaikan itu mengusik kapasitas kita sebagai profesionalis. Justeru sebaliknya, profesionalitas seorang Guru dapat ditunjukkkan melalui kemampuan mengelola permasalahan seperti itu dengan baik. Tugas kita hanya menjawab pertanyaan, mempertimbangkan saran, menjelaskan kritikan bila diperlukan. Dengan demikian, keharmonisan antara sekolah dan orang tua peserta didik bisa tetap terjalin dan terhindar dari  kerenggangan antara sekolah dan orang tua serta masyarakat pada umumnya.

Selanjutnya, terkait dengan deskripsi yang dimuat di dalam dokumen laporan hasil belajar peserta didik, memungkinkan para orang tua untuk mengonfirmasi sendiri apa yang tercantum di dalam dokumen laporan hasil belajar dengan fakta sesungguhnya. Misalnya di dalam dokumen laporan tertulis “Ananda Zia sangat baik dalam mempraktikkan ibadah shalat Jum’at.” Jika kita lihat, deskripsi ‘sangat baik’ memiliki rentangan nilai yang sangat tinggi, apalagi dalam penilaian yang berkaitan dengan psikomotorik (keterampilan). Para orang tua peserta didik bisa langsung menguji anak-anak mereka di rumah dengan cara menyuruh mereka untuk mempraktikkannya, misalnya mempraktikkan shalat Jum’at sebagaimana contoh permasalahan yang disampaikan oleh orang tua peserta didik di atas. Jika anak-anak mereka mampu mempraktekkan dengan sangat baik, maka ada kesesuaian antara deskripsi laporan dengan fakta yang sudah dibuktikan sendiri. Masalahnya adalah jika terjadi ketidaksesuaian antara deskripsi dengan fakta. Di sinilah seorang guru baik guru kelas maupun guru mata pelajaran harus berhati-hati dalam memberikan nilai kepada peserta didiknya. Jangan sampai khawatir dinilai kurang berhasil dalam mengajar karena perolehan nilai peserta didik rendah saat ulangan, lalu di dalam laporan guru memberikan nilai sangat tinggi kepada peserta didik yang pada akhirnya menjadi bumerang bagi guru jika deskripsi tersebut diuji langsung oleh orang tua peserta didik. Karena itu, hal yang wajib dilakukan untuk menghindari kemungkinan terburuk di atas adalah disiplin menjaga kuantitas pelayanan terhadap peserta didik dan berusaha meningkatkan kualitas pelayanan terhadap peserta didik saat proses belajar mengajar berlangsung.

Sekarang penulis lanjutkan dengan penjelasan point-point di atas.

  1. Setelah mencari referensi terkait dengan materi ibadah shalat Jum’at sebagaimana yang disampaikan oleh orang tua peserta didik di atas, penulis menemukannya di dalam “Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti” Kelas IV versi digital yang ditulis oleh Ahmad Faozan dan Jamaluddin (Penerbit: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Jalan Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta Pusat, Cetakan pertama, 2021, halaman 149). Saat itu penulis menjelaskan kepada orang tua tersebut bahwa deskripsi yang tercantum di dalam dokumen laporan hasil belajar peserta didik itu bukan hasil copy-paste melainkan hasil penilaian berupa angka-angka yang diinput ke dalam aplikasi raport lalu dicetak. Deskripsi yang dicantumkan itu merupakan kompetensi atau kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh para peserta didik. Kompetensi itu bisa dicapai hanya melalui proses pembelajaran karena tujuan dari pembelajaran sendiri ditujukan untuk mencapai kompeteni dasar yang telah dirumuskan. Misalnya pada contoh deskripsi “Ananda Zia sangat baik dalam mempraktikkan ibadah shalat Jum’at. Maka kompetensi dasar yang telah ditetapkan adalah mampu mempraktekkan shalat Jum’at. Agar peserta didik memiliki kemampuan mempraktekkan shalat Jum’at, maka tujuan pembelajaran saat proses belajar mengajar adalah “mampu mempraktekkan ibadah shalat jum’at dengan baik”. Ulangan harian, tengah semester maupun semester dilakukan hanya untuk menilai kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena yang dinilai adalah praktek shalat Jum’at sesuai dengan materi yang tercantum di dalam buku kurikulum, maka deskripsi penilaiannya pun harus praktek shalat Jum’at bukan yang lain. Dan dalam asesmen kurikulum 2013, setahu Saya (Penulis) dalam setiap muatan mata pelajaran, deskripsi yang dimunculkan hanya ada dua, yaitu kemampuan (kompetensi dasar) dengan nilai tertinggi dan kemampuan (kompetensi dasar) dengan nilai terrendah. Sehingga jika di dalam deskripsi tertulis “Ananda Zia sangat baik dalam mempraktikkan ibadah shalat Jum’at’, maka dari semua kemampuan (kompetensi) yang harus dikuasai pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti itu, praktek shalat Jum’at yang nilainya paling tinggi sehingga dideskripsikan di dalam laporan hasil belajar. Jika terdapat kesamaan antara yang tertulis di buku kurikulum dan dokumen laporan hasil belajar, maka tidak berarti itu copy-paste melainkan prosedurnya memang seperti itu, yakni yang dinilai, itu yang dideskripsikan. Selanjutnya, memang benar bahwa shalat Jumat itu kewajiban laki-laki bukan perempuan. Namun perlu dipahami bahwa shalat Jumat itu hukumnya sunah bagi perempuan. Shalat sunah yang lain saja dipelajari dan dipraktekkan, mengapa shalat Jumat tidak boleh?
  2. Sepertinya guru-guru ini malas mengajar. Hal ini diketahui saat proses belajar-mengajar berlangsung, setelah beberapa menit mengajar, guru mulai sibuk dengan handphone. Jika ada peserta didik yang tidak mengerti dan bertanya, tidak dijawab oleh guru, malah disuruh cari di google. Bahkan tugas dari sekolah yang dikerjakan di rumahpun dicari di google. Apa gunanya guru?

Fenomena baru di era teknologi digital ini adalah smartphone, handphone sebagai multimedia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Apalagi sekarang teknologi AI (Artificial Inteligen) atau kecerdasan buatan telah digunakan dalam dunia pendidikan. Kemudahan memperoleh informasi yang sangat cepat dalam hitungan detik hanya melalui Chat GPT atau Whatsapp. Kemudahan seperti membuat modul ajar dan membuat soal ulangan misalnya, tidak sampai satu menit, kita bisa memperoleh apa yang kita inginkan. Sampai di sini kiranya sahabat-sahabat Guru sekalian dapat memaklumi pentingnya penggunaan multimedia untuk meningkatkan kualitas, efisiensi serta efektifitas dalam mengelola pembelajaran mulai dari membuat perencanaan sampai pada asesmen pembelajaran. Bukan menggunakan multimedia di luar konteks pembelajaran di waktu proses belajar mengajar sedang berlangsung.

Menjawab pernyataan orang tua peserta didik di atas, penulis sampaikan bahwa guru-guru itu tidak malas mengajar. Handphone dalam dunia pendidikan merupakan salah satu alat yang memiliki berbagai macam fungsi termasuk sebagai media pembelajaran. Dengan handphone, siapapun bisa mengakses informasi apapun dalam waktu yang sangat singkat. Jika terdapat permasalahan yang tidak dimengerti oleh seorang peserta didik saat pembelajaran berlangsung, mereka disuruh untuk mengakses via google. Hal ini tidak berarti guru itu malas menjelaskan bahkan ini yang diharapkan oleh guru karena menjadi salah satu indikator keberhasilan guru dalam megelola pembelajaran, yakni berhasil menumbuhkan rasa keingintahuan peserta didik terhadap sesuatu. Lalu mengapa mereka disuruh untuk menggunakan mesin pencarian google? Ini dimaksudkan untuk mereka mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Dan secara sadar atau tidak mereka telah meningkatkan kuantitas dan kualitas membaca mereka. Jika dilakukan terus-menerus membuat mereka semakin terbiasa dengan membaca, lalu menyadari bahwa dengan membaca mereka memiliki pengetahuan yang lebih banyak. Inilah yang diharapkan oleh seorang guru.

Selanjutnya penulis sampaikan bahwa telah terjadi pergeseran secara konseptual maupun praktek. Bahwa mengajar bukan lagi sebuah proses untuk mentransfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada peserta didik. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber informasi bagi peserta didik, melainkan hanya sebagai fasilitator pembelajaran. Dengan demikian yang diajarkan oleh guru adalah bagaimana peserta didik bisa belajar dengan gaya belajar mereka masing-masing. Selain itu pertanyaan bisa muncul kapan saja dan di mana saja, tidak seharusnya mereka menunggu besok untuk bertanya kepada gurunya sementara ada handphone di tangan mereka. Dengan modal bimbingan yang telah didapatkan dari Guru di sekolah mereka bisa langsung googling untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka saat itu juga. Dan tugas yang dikerjakan dengan mengakses google di rumah itu dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang digunakan untuk bermain game.

Sebagai penutup, marilah kita tanamkan prinsip bahwa setiap orang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan dengan cara mereka dan berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalaman masing-masing . Baik itu berupa pertanyaan negative, pernyataan, saran atau masukan bahkan berupa kritikan. Kita bisa duduk bersama-sama untuk mencari solusi bila diperlukan, namun keputusan terbaik tetap ada pada kita, Guru sebagai eksekutor lapangan.

*Penulis (Asyuni Keledar, S.Pd, Gr) adalah Kepala Sekolah pada SD Negeri Antalisa, Distrik Karas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

4 thoughts on “GURU WAJIB BERHATI-HATI, DESKRIPSI LAPORAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK BISA MENJADI BUMERANG*

  1. Handphone salah satu media yang dapat menunjang kualitas pembelajaran namun seringkali sebagai guru menyalah gunakan fungsi dari Handphòne itu sendiri.
    *Sebagai guru profesional siap menerima kritik dan saran yang membanģun untuk perbaikan kualitas pembelajaran

    1. Terima kasih Ibu Guru, telah mengunjungi Web ini. Sebagai profesional, kita harus bijak menggunakan handphone sesuai kebutuhannya terutama saat proses belajar mengajar berlajar. Dan benar sekali Ibu, demi perbaikan pembelajar, kritik sangat kita butuhkan.

  2. Sukses selalu pak kep Antalisa,,,,
    Kerja keras dan pengabdiannya semoga tdk sia2,,,di tengah gelombang dan angin tetap semangat memajukan anak-anak negeri tercinta,,,,salam @sdinp6bmy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *