Mengurai Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Kemampuan Membaca Peserta didik SD Kelas Rendah di Wilayah Tertinggal

(Oleh: Asyuni Keledar, S.Pd, Gr)*

Permasalahan membaca sudah menjadi hal klasik yang masih membuat pusing para pendidik era modern. Kekayaan metode mengajar, teori, konsep, rasanya tidak berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan. Entah karena penerapannya yang tidak maksimal atau faktor lainnya. Yang jelas setiap teori pembelajaran yang sudah diuji secara akademik, seharusnya bisa menjadi pedoman umum yang jika diterapkan dengan benar, akan memperoleh hasil yang memuaskan.

Pada tahun 2021 lalu, dalam sebuah momen sosialisasi yang dilaksanakan di Grand Papua Hotel, Fakfak, Papua Barat, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Fakfak saat itu, Hermanto Hobrouw, S.Pd, M.Pd, dalam sambutannya membeberkan perkembangan pendidikan terutama dalam hal membaca untuk peserta didik sekolah dasar yang dinilainya sangat mengecewakan. Temuan ini mengonfirmasi betapa rendahnya tingkat kemampuan membaca para peserta didik di wilayah tertinggal.

Sebenarnya outcome proses pembelajaran di kota dan di wilayah tertinggal tidak jauh berbeda. Kelemahan peserta didik dalam hal membaca, tidak sepenuhnya didominasi oleh para peserta didik dari wilayah tertinggal. Sebaliknya, kelebihan-kelebihan dalam hal yang sama tidak sepenuhnya didominasi oleh para peserta didik di kota. Karena peserta didik di wilayah tertinggal pun bisa menggeser anak-anak pelajar dari kota di ajang olimpiade. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan seorang Guru sebagai desainer pembelajaran dan peserta didik sebagai “objek” yang diperlakukan serta fasilitas pembelajaran yang tersedia.

Jika kita menganalisa, setidaknya terdapat lima hal yang menjadi faktor penyebab peserta didik terlambat dalam membaca, terutama di wilayah tertinggal yakni:

  1. Kurangnya tenaga guru profesional

Tidak dapat disangsikan lagi bahwa program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satunya melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG). Melalui PPG, para guru atau calon guru diajarkan baik secara teori maupun praktek untuk menjadi guru yang profesional. Melalui program ini, diharapkan para guru mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang teori-teori pembelajaran terutama yang berkaitan dengan pendekatan pembelajaran, model pembelajaran dan metode mengajar, dan bagaimana menuangkannya dalam skenario pembelajaran secara tertulis untuk dijadikan pedoman saat proses pembelajaran di kelas. Para guru juga diajarkan untuk melakukan penilaian atau evaluasi atas proses pembelajaran yang dilakukan serta penggunaan teknologi digital pembelajaran dan masih banyak lagi. Dengan demikian program PPG adalah salah satu jalan keluar dari rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, terutama dalam hal membaca. Faktanya tidak semua sekolah (apalagi sekolah-sekolah di wilayah tertinggal) memiliki guru profesional. Kalaupun ada, mereka jarang sekali menerapkan ilmunya kepada anak-anak karena kebanyakan dari mereka adalah kepala sekolah.

  1. Durasi mengajar guru di sekolah

Di wilayah tertinggal yang jauh dari pengawasan, masih terdapat guru-guru yang terlambat datang ke sekolah namun pulang sebelum waktu belajar di sekolah usai. Hal ini mengurangi durasi belajar peserta didik di sekolah. Kewajiban seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran minimal 24 jam dalam seminggu rupanya diabaikan oleh sebagian guru. Jika ini dilakukan terus-menerus oleh guru-guru kelas rendah, tentu hal ini berdampak pada tingkat pemahaman peserta didik dalam membaca.

  1. Tingkat kehadiran peserta didik yang rendah

Ada kebiasaan masyarakat setempat yang merugikan pendidikan anak-anaknya. Misalnya, jika orang tua berangkat ke kota, atau ke tempat lain untuk mencari nafkah keluarga, anak-anaknya juga dibawa. Terkadang satu minggu, dua minggu bahkan lebih. Ada yang sempat meminta izin, ada yang sudah dalam perjalanan baru meminta izin bahkan ada juga yang pergi begitu saja tanpa diketahui oleh pihak sekolah. Kondisi semacam ini membuat anak-anak semakin mundur. Sebab secara teori, mengajar anak-anak kelas rendah harus diulang terus-menerus.

  1. Fasilitas pendidikan dan media pembelajaran yang minim

Sekolah-sekolah di wilayah tertinggal memiliki prasarana dan sarana pembelajaran yang sangat rendah secara kuantitas. Sebagian besar sekolah hanya memiliki dua atau tiga ruang belajar. Dari sisi ketersediaan media belajar enaktif dan ikonik pun sangat minim. Padahal pembelajaran untuk anak-anak sekolah dasar, menurut teori Bruner, melalui tiga tahapan yakni enaktif, ikonik dan simbolik. Secara enaktif, tidak semua media pembelajaran yang dituntut di dalam kurikulum itu tersedia di sekolah atau lingkungan sekolah. Meskipun para guru diberikan kebebasan untuk menggantinya atau memodifikasinya dengan media lain atau bentuk lain yang relevan, namun tidak semua guru mempunyai kemampuan itu. Selanjutnya pembelajaran pada tahap simbolik, seorang guru harus pandai-pandai memilih pendekatan pembelajaran agar bisa menarik perhatian peserta didik.

  1. Pendekatan pembelajaran

Dalam pembelajaran di sekolah, terutama pada peserta didik kelas rendah, paling sering menggunakan pendekatan kolektif. Yakni para peserta didik dajarkan mengenal huruf, mengeja, dan membaca secara kolektif. Selanjutnya dinilai secara individual, peserta didik mana yang sudah berhasil, bisa naik kelas, dan yang belum berhasil akan mengulang. Mereka yang mengulang tetap mengikuti proses pembelajaran dengan pendekatan yang sama sehingga terlihat sangat tidak adil. Seharusnya peserta didik yang mengulang mendapat porsi tambahan, tidak boleh disamakan dengan peserta didik yang baru masuk. Pengamat pendidikan Doni Koesoema menilai, penilaian peserta didik SD harus berorientasi pada perkembangannya sebagai individu. Karena itu, pengajaran di SD hendaknya dilakukan dengan mengedepankan pendekatan individual secara kontinu sejak awal hingga akhir tahun pelajaran (Sumber: Kompas 11 Oktober 2016 yang dimuat dalam Modul Pelatihan Kurikulum 2013 untuk SD/MI oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018, halaman 231).

Dan sekarang kita telah bergeser ke teknologi digital. Seorang guru dikatakan berkualitas jika menguasai dua hal, yakni materi pelajaran dan teknologi pedagogik. Hal ini untuk menjawab tantangan zaman di mana anak-anak di era digital, dalam proses pembelajaran sekarang harus didesain agar bisa menyenangkan peserta didik. Dan teknologi memberikan banyak kemudahan. Teori Bruner yang telah penulis sebutkan, pada tahap ikonik dan simbolik dapat di rekayasa dalam gambar digital yang menarik. Sebagai contoh, untuk memperkenalkan abjad kepada para peserta didik melalui permainan mencocokkan huruf, mengatur huruf sesuai dengan gambar tertentu, semuanya bisa didesain secara digital dan lebih interaktif karena bisa diinsert audio, video, teks, gambar, dll, sehingga peserta didik akan merasa tertarik untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan.

Sebagai simpulan, untuk mengatasi penyebab di atas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Kepala sekolah melakukan pendekatan langsung untuk meyakinkan para orang tua tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka dan dampak buruk bagi anak-anak yang selalu absen. Sedangkan  para guru yang mengurangi durasi mengajarnya juga menjadi tanggungjawab kepala sekolah untuk memberikan teguran atau pembinaan.
  2. Kurangnya tenaga guru profesional menjadi tanggungjawab bersama para guru dan pemerintah;
  3. Fasilitas pendidikan dan media pembelajaran digital yang minim menjadi tanggungjawab pemerintah; dan
  4. Dalam proses belajar mengajar, pendekatan pembelajaran individual berbasis digital ideal untuk diterapkan.

*Penulis adalah Guru dan Kepala Sekolah pada SD Negeri Antalisa sejak 2012

6 thoughts on “Mengurai Faktor Penyebab Rendahnya Tingkat Kemampuan Membaca Peserta didik SD Kelas Rendah di Wilayah Tertinggal

  1. Tetap semangat bpk kep,,,suatu tantangan tersendiri utk ttp mengabdi di daerah 3T tdk gampang spt yg org pikirkan,,,tetap maju dan mengabdi ,pasti akan di balas dan diijabah oleh yang Allah TME,,,, Salam dari kami SDI6Bry

  2. Sangat setuju dengan apa yg dikemukakan bpk, itu reel adanya. Semoga kita para guru, orang tua dan pemerintah bisa berbenah diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing2 dan dapat bekerja sama dalam memajukan pendidikan, baik di kota maupun di daerah tertinggal terlebih khusus

  3. Saya sangat termotivasi dengan apa yang di thlis oleh pa asyuni karna realita yang terjadi benar adanya bukan hanya terjadi di sekolah tertentu saja tetapi juga terjadi di sekolah kami.. Dengan kendala2 yang sama… Apalagi dengan adanya program PPG yg dilaksanakan oleh pemerintahan tapi klo kita guru tdk disiplin dan tdk menerapkan kembali apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita semuanya akhirnya tinggal satu kata saja yaitu… W A Y A M…

    1. Terima kasih ibu guru telah menyampaikan pandangannya. Semoga sahabat seprofesi yang sudah mengikuti PPG bisa memaksimalkan pelayanannya dalam mendidik generasi emas bangsa. Jika ibu guru mempunyai pengalaman atau ide, bisa kirim ke alamat kami untuk dimuat di sini. Kami dengan senang hati akan mempublikasikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *